Showing posts with label harga karet. Show all posts
Showing posts with label harga karet. Show all posts

January 2, 2018

Harga Karet Tahun Baru 2018

Penutupan pasar Sicom untuk karet SIR 20 Selasa 2 Januari 2018
Harga TSR20: 145,4 US cent/kg
Kurs: Rp 13.482
Harga SIR 20: Rp 19.602
Taksiran harga:
Harga Pabrik DRC 100%: Rp 16.102
Harga Petani, basah: Rp 6.754

July 3, 2017

Naik,Harga Karet Pembukaan Senin 3 Juli

Harga karet Sicom Senin 3 Juli 2017 dibuka dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga penutupan bulan Juni.

Harga TSR20: 154.0 US cent/kg
Kurs: Rp 13.329
Harga SIR 20: Rp 20.526
Harga Pabrik: Rp 17.026
Harga Petani: Rp 7.170

Semoga harga karet petani terus naik.

June 28, 2017

Harga Tinggi di Pasar Lelang Getah Karet

Stevan dkk (2015) dalam publikasinya yang berjudul “Analisis efektifitas pasar lelang karet di Kab. Bungo, Prov. Jambi” menyatakan bahwa besarnya bagian harga yang diterima oleh petani karet pada saluran I (melalui pasar lelang) lebih tinggi dibandingkan pada saluran II (non lelang, melalui pedagang/toke). Besarnya bagian harga tersebut adalah 93.02% pada pasar lelang karet, dan 76.52% jika melalui toke non lelang. Besarnya bagian harga pada pasar lelang sangat masuk akal karena terdapat rantai perdagangan bahan olah karet (bokar) yang lebih pendek. Pada pasar lelang, petani langsung menjual getahnya di pasar lelang yang dilaksanakan dengan frekuensi tertentu (1 atau 2 minggu sekali). Getah karet yang terlelang di pasar lelang kemudian langsung dijual ke pabrik. Bahkan, pada jumlah volume karet yang besar, pihak “perwakilan” pabrik sering datang langsung untuk mengikuti lelang karet. Sementara, pada tataniaga karet yang lain, yaitu non pasar lelang, terdapat beberapa pedagang yaitu pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang kabupaten, dan pedagang provinsi. Para pedagang ini ada yang langsung membeli dari petani, tapi ada juga yang memperoleh getah dari pedagang yang lebih kecil.

Dengan kata lain, kalau petani ingin mendapatkan harga yang lebih tinggi untuk getah karetnya, mereka dapat menjualnya ke pasar lelang.

harga tinggi pasar lelang getah

Secara lebih rinci pada penelitian tersebut juga disampaikan margin pemasaran getah karet beserta biaya dan keuntungan di kedua sistem tataniaga. Margin pemasaran merupakan selisih harga yang diterima petani dengan yang dibayarkan oleh konsumen akhir (pabrik), sedangkan biaya merupakan jumlah uang yang dikeluarkan dalam proses distribusi dari petani sampai pabrik. Dengan data saat penelitian tersebut, untuk pasar lelang, harga yang diterima petani adalah Rp 10300,- sedangkan non lelang hanya Rp 8300,-. Biaya total yang dikeluarkan untuk pasar lelang adalah Rp 155 sedangkan untuk non lelang Rp 1036,6. Dan margin pemasarannya adalah Rp 772,- untuk lelang, dan Rp 2516,- untuk non lelang. Lebih detail perbandingan biaya dan margin pemasaran antara pasar lelang dan pasar non lelang tersaji di Tabel (data tahun 2014). Dari segi efisiensi teknis, pasar lelang juga mempunyai keunggulan dibandingkan nonlelang. Pasar lelang mempunyai indeks efisiensi sebesar Rp 31,- kg/km, sedangkan non lelang sebesar Rp 206,32 kg/km. Artinya melalu pasar lelang, setiap penambahan jarak 1 km, biaya akan bertambah sebesar Rp 31,-.

Sekali lagi dijelaskan bahwa melalui pasar lelang karet, petani cenderung bahkan hampir pasti memperoleh harga karet yang lebih tinggi. Ada efisiensi proses pemasaran.

Penelitian Stevan dkk tersebut juga sesuai untuk kondisi saat ini. Bahwa harga karet yang diterima oleh petani di pasar lelang lebih tinggi daripada harga yang diterima petani yang menjual getahnya secara non lelang. Sebagai contoh di pasar lelang Koperasi Maju Bersama Sembawa, pada tanggal 14 Juni 2017, harga lelang untuk getah petani adalah sebesar Rp 7469,- sementara di petani yang lain paling tinggi hanya berkisar Rp 6000,-. Selisih yang kelihatannya hanya sekitar Rp 1000,- s.d Rp 2000 per kilogram, namun akan menjadi sangat besar jika sudah ada faktor kalinya. Berapa kilo atau bahkan berapa ton per bulan. Sebagai contoh jika seorang petani dengan produksi lum/slab per minggu adalah 100 kg, maka selisih harga per bulan sudah Rp 400.000 - Rp 800.000. Selisih yang sangat lumayan untuk ukuran hidup di desa. Perlu juga diketahui, bahwa besar kecilnya volume/jumlah karet di pasar lelang juga dapat mempengaruhi tinggi rendahnya harga. Misalnya, pasar lelang dengan jumlah tonase sebanyak 75 ton sekali lelang, akan cenderung mempunyai harga karet yang lebih baik dibandingkan pasar lelang yang hanya melelang 15 ton getah karet. Ada kekuatan kebersamaan, daya tarik dan daya tawar yang lebih besar. Pabrik pun akan lebih senang kalau sekali transaksi dapat getah yang banyak, apalagi mutu bagus dan seragam.

Ringkasnya pasar lelang mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh pasar non lelang atau toke kecil. Ada karet dalam jumlah yang besar, managemen yang lebih baik, transparansi, mutu terjaga dan relatif homogen serta rantai tata niaga yang lebih pendek. Semua faktor itu membuat harga tinggi getah karet di pasar lelang. Dan yang paling penting adalah ada kekompakan antar petani dalam kelompok tani atau UPPB. Sebatang lidi sangat mudah dipatahkan, namun seikat lidi akan lebih kokoh dan lebih berguna.

June 24, 2017

Fluktuasi Harga Karet Menjelang Lebaran

Selama satu minggu ini harga karet di Sicom naik turun tipis pada kisaran 137,3 - 141,2 cent USD. Dan pada penutupan kemarin, Jumat 23 Juni 2017, hari terakhir perdagangan menjelang Lebaran, harga karet berada pada angka 140,2 cent USD. Dengan kurs sebesar 1 USD = Rp 13321, maka harga karet tersebut setara dengan Rp 18676. Setelah dikurangi biaya-biaya pabrik maka harga getah di pabrik akan menjadi Rp 15176 dan taksiran harga di tingkat petani dengan karet basah maka harganya adalah sekitar Rp 6336. Semoga harga karet penutupan jelang lebaran yang naik ini akan berlanjut lagi setelah Idul Fitri nanti. Aamiin...

Pada kesempatan ini, Karetpedia mengucapkan Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Semoga Yang Maha Kuasa menerima amalan ibadah selama Ramadhan. Selamat berlibur, selamat mudik, hati-hati di jalan. Semoga dapat berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.

Karetpedia mohon maaf lahir batin

June 12, 2017

Harga Karet 10 Tahun Terakhir

Naik turunnya harga karet memang selalu menarik untuk diikuti, apalagi bagi para pelaku industri karet, mulai dari petani, pedagang, pabrik, pemerintah dan pihak-pihak terkait. Harga yang sudah terlalu lama rendah, dan sulit diprediksi kapan naik lagi, menjadikan para pelaku sering kali galau. Baru naik sebentar, udah anjlok lagi. Kayak kena pehape. Sakit, sedih, marah dll. Dan tampaknya sudah banyak yang tidak sabar kemudian beralih ke komoditas lain. Ada yang membongkar tanaman karetnya, diganti sawit, tebu, coklat atau tanaman lain. Ada juga yang membiarkan tanaman karetnya tidak dideres, cari kerjaan lain yang lebih layak. Ada yang tetap nderes tapi getahnya ndak dijual, tapi disimpan nunggu harga naik. Ada juga yang mau ga mau tetap nyadap karena menjadi satu satunya tumpuan harapan walaupun harga getahnya bikin sakit hati. Bermacam perilaku menyikapi rendahnya harga karet tergantung pada kondisi masing-masing. Namun, bagaimanapun, Indonesia merupakan negara penghasil karet terbesar no 2 di dunia, dan jutaan orang terlibat dalam industri ini, sehingga kepedulian terhadap harga karet harus terus ditingkatkan.

Terkait harga karet ini, sebenarnya seperti apa profil atau fluktuasinya, naik turunnya? Apakah memang sering naik turun, atau memang cenderung sering rendah, atau gimana? Fluktuasi harga karet selama beberapa tahun terakhir juga sering jadi pertimbangan apakah masih perlu nanam karet, atau sampai sejauh mana perbandingannya dengan komoditas lain dsb. Berikut ini Karetpedia memperoleh grafik harga karet selama 10 tahun terakhir yaitu dari Juli 2007 sampai Juni 2017 (minggu lalu). Grafik ini dapat dilihat di barchart.com untuk jenis tampilan lainnya, seperti harga 1 bulan, harga 1 tahun terakhir dst. Dari grafik yang 10 tahun terakhir tersebut, kemudian Karetpedia coba klasifikasikan atau bagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama harga karet yang tinggi yaitu di atas 2.5 $ (warna hijau). Kelompok kedua harga sedang atau layak yaitu 2 – 2.5 $ (kuning), dan kelompok ketiga kondisi seperti sekarang ini yaitu harga jelek, prihatin yaitu dibawah 2 dollar (merah). Harga-harga tersebut sebenarnya akan lebih ideal kalau ada tambahan info kurs dollarnya saat itu. Sayang tidak ada. Tapi tidak apa, paling tidak kita tahu seperti apa profil harga dalam cent dollar dan apa yang bisa diambil hikmahnya.

fluktuasi harga karet 10 tahun terakhir


Dari grafik di atas, ternyata kalo dihitung jumlah bulannya, maka selama 10 tahun terakhir, kelompok harga tinggi (warna hijau), dan kelompok harga rendah (warna merah), memiliki jumlah total yang sama, yaitu masing-masing 50 bulan. Bedanya, harga tinggi terdistribusi pada dua kurun waktu yaitu Januari – September 2008 (9 bulan) dan November 2009 – Maret 2013 (41 bulan), sedangkan harga rendah/anjlok terdistribusi pada 3 kurun waktu, yaitu Oktober 2008 – Agustus 2009 (11 bulan), Januari 2014 – November 2016 (35 bulan), dan Maret 2017 - sekarang Juni 2017. Sementara lainnya adalah untuk harga layak (kuning) yaitu 20 bulan. Artinya kita pernah menikmati harga karet yang sangat bagus, sangat tinggi bahkan sempat hampir 6 dollar. Harga tinggi itu juga berlangsung maraton cukup lama, 41 bulan, sekitar 2010 sampai awal 2013. Yuk sejenak kita ingat-ingat lagi, masa masa indah itu. Beli apa aja waktu itu, untuk apa aja uang dari karet itu. Apa semua dihabiskan, atau ada juga yang untuk investasi. Bisa juga jadi bahan renungan, apa yang kita lakukan saat harga karet tinggi waktu itu sudah benar, atau sebaliknya. Yuk introspeksi diri.

Setelah itu, harga karet secara perlahan turun, dan memasuki area warna kuning atau antara 2 – 2.5 dollar selama 9 bulan, April – Desember 2013. Harga yang sudah lama berada di atas 2.5 dollar secara perlahan, ya secara pelan-pelan turun. Tidak langsung turun tapi seperti kasih kode ke kita, kasih tanda bahwa harga akan berubah. Mungkin disuruh siap-siap supaya tidak terlalu kaget. Bahwa setelah lama harga bagus, akan datang harga yang membuat kita prihatin. Dan terjadilah harga merah, dibawah 2 dollar mulai sekitaran awal 2014. Harga rendah itu ternyata berlangsung selama 35 bulan, yaitu awal 2014 sampai akhir 2016. Kemudian naik sebentar jadi kuning sekitar 3 bulanan, dan kembali merah lagi dari Maret sampai hari ini pertengahan juni 2017. Bagaimana kedepannya? Optimislah kita. Semoga dengan optimis, itu merupakan bagian doa kita agar harga karet menjadi lebih baik.

Ngomong-ngomong, kalo lihat grafik yang 41 bulan hijau, lalu lanjut kuning sebentar, trus lanjut 35 bulan merah, jadi ingat kisah Nabi Yusuf. Nabi ganteng yang mempunyai kelebihan dalam mentabirkan mimpi. Yah mumpung puasa, dan pas juga lagi harga prihatin gini, sangat tepat kalo sambil merenung dan cari hikmah. Di Surat Yusuf, surat ke-12 Al Quran, mulai ayat 43 yang terjemahnya sbb:

43. Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering". Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi".

44. Mereka menjawab: "(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu".

45. Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)".

46. (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya". 

47. Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. 

48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. 

49. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur". 

Walo ga persis sama, tapi kok agak2 mirip dengan kisah harga karet kita. Setelah harga yang sangat bagus sekian lama, 41 bulan hijau, plus kuning 9 bulan, kemudian datang paceklik harga karet yang sangat rendah selama 35 bulan, yang boleh jadi sudah menghabiskan simpanan tabungan dsb. Semoga setelah itu akan naik kembali. Yakinlah badai pasti berlalu. Habis gelap terbitlah terang.

Dan tentu ini menjadi pelajaran bagi kita semua akan pentingnya menabung, investasi di saat jaya. Karena roda pasti berputar. Juga tidak bisa mengandalkan hanya pada satu komoditas. Jangan menaruh semua telur pada keranjang yang sama.

Demikian sekilas info fluktuasi harga karet selama 10 tahun terakhir. Catatan dalam keadaan perut lapar, jadi maklum kalo agak agak aneh. Silahkan yang mau kasih tambah komentar, di kolom bawah. Yuk kita sama sama nikmati harga karet ini, sambil terus bekerja dan berdoa smoga hari esok dapat lebih baik lagi.

Harga Karet 12 Juni, Ada Indikasi Naik

Pembukaan Sicom Senin 12 Juni 2017
Harga TSR20: 142,3 US cent/kg
Kurs: Rp 13.300
Harga SIR 20: Rp 18.925
Harga Notering Pabrik: Rp 15.425
Harga Petani: Rp 6.511

Ada indikasi naik, semoga harga pembukaan yang lebih tinggi dari penutupan minggu lalu menjadi kabar yang baik untuk kita semua. Amin.

May 11, 2017

Tren Harga Karet Januari - April 2017

Bulan April sudah berlalu. Empat bulan pertama tahun 2017 tak terasa sudah dijalani. Terasa demikian cepat. Selama 4 bulan tersebut banyak kejadian mewarnai dunia perkaretan maupun faktor yang terkait dengannya. Dalam hal harga karet, seperti biasa fluktuasi harga terjadi, naik turun, mendebarkan, membuat semua pelaku agroindustri karet tetap waspada.

Pada periode kwartal pertama 2017, harga karet berkisar antara 151.7 - 231.6 US cent per kg. Harga tertinggi dicapai pada pertengahan bulan Februari, sedangkan harga terendah terjadi pertengahan April. Tren harga karet yang mulai naik sejak akhir tahun 2016, tampaknya telah melalui fase puncaknya. Paling tidak itu terlihat dari grafik harga karet dari Januari - April 2017. Tren harga karet cenderung naik selama Januari sampai pertengahan Februari, dan setelah itu secara perlahan harga mulai turun. 

harga karet januari april 17

Melihat tren harga karet tersebut, tampaknya para petani dan pekebun karet akan lebih banyak berada dalam kondisi yang was-was. Harga di atas 2 dollar yang baru dinikmati sekitar 2 bulan, tampaknya juga belum cukup untuk pulih dari sulitnya kondisi harga selama 4 tahunan. Rencana perbaikan produktivitas kebun karet yang baru dimulai lagi, akan menghadapi tantangan yang cukup terjal jika tren harga masih seperti ini. Harga yang sebenarnya cukup wajar yang diharapkan petani, yaitu diatas Rp 10,000,-, agaknya masih perlu banyak usaha dan doa. Kendati begitu, optimisme dan keyakinan harus tetap dipertahankan dengan rasional. Rasa syukur juga tetap tak dilupakan, karena kondisi sekarang masih lebih baik dibandingkan tahun lalu.

Grafik harga karet selama 4 bulan pertama tahun 2017 tersebut seolah merupakan suatu indikasi bahwa gelombang kenaikan harga karet yang dimulai sekitar November 2016 sudah mulai mereda. Beberapa faktor yang saat itu mendorong kenaikan harga tampaknya mulai berkurang. Spekulasi para pengusaha di Tiongkok, insentif harga mobil, dan bencana banjir di Thailand sudah berkurang efeknya terhadap kenaikan harga karet. Penjualan cadangan karet di Thailand justru mendorong suplai karet yang meningkat di pasar sehingga membuat harga karet terkoreksi. Kondisi trek atau turunnya produksi kebun karet karena musim gugur daun, tidak cukup kuat mengerem tren turunnya harga. Tampaknya diperlukan pemicu baru agar harga karet kembali terdongkrak naik.

Ada prediksi yang menyatakan bahwa harga karet akan naik kembali pada pertengahan tahun 2017 (semoga prediksi harga karet tersebut tepat adanya). Namun kalau dilihat dari tren selama 3 bulan terakhir, prediksi kenaikan harga karet tersebut tampaknya menjadi 50-50. Satu sisi tren harga turun bahkan di saat musim trek sekarang ini. Sisi lain, faktor eksternal tak terduga masih menjadi harapan (diantaranya harga minyak). Secara logika sederhana, harga yang turun saat musim gugur daun harusnya akan lebih menjadi patokan untuk prediksi harga karet beberapa bulan ke depan. Bahwa harga karet paling tidak akan stagnan, atau bahkan akan turun saat daun sudah kembali pulih di bulan Mei. Hal itu masuk akal berdasar konsep suplai-demand. Hanya faktor eksternal yang kuat yang akan mampu kembali mendorong kenaikan harga karet. Apakah faktor itu? Adakah faktor itu...? Tanda tanya. Tampaknya begitulah nasib kalau hanya mengandalkan faktor dari luar. Menunggu di tengah ketidakpastian. Sementara hidup harus terus berjalan... Harus ada tekad perubahan!!!

Dalam kondisi begini, akan kembali terpikir bagaimana kabar faktor internal. Faktor yang harusnya bisa kita kendalikan. Konsumsi karet alam di dalam negeri. Bisakah karet itu kita pakai sendiri? Kalau pun tidak semua, ya sebagian besar. Ekspor memang perlu, tapi kalau hanya bahan mentah? Dari data statistik, katanya sekitar 85% karet Indonesia di ekspor. Sebagian besar dalam bentuk mentah, raw material, setengah jadi, atau apalah namanya. Yang jelas nilai tambahnya belum banyak. Ada 15% yang kita pake sendiri, sebagian buat ban. Bisakah ini ditingkatkan? Bisakah ada produk olahan karet, produk turunan karet, produk-produk yang dibuat dari karet, selain ban. Program karet-isasi perlu dipercepat dan ditingkatkan. Bukan perluasan kebun karet. Kebun yang ada saja sudah cukup. Kalaupun perbaikan, mungkin peningkatan produktivitas kebun, dan bukan perluasan kebun. Bahkan kalau perlu malah dikurangi. Yang sangat urgen adalah itu tadi, karetisasi. Meningkatkan produk2 dari bahan karet alam. Hilirisasi. Sekali lagi karet alam, bukan yang sintetis. Industri karet perlu diperbanyak. Tapi bukan pabrik karet yang hanya mengolah getah. Kalau itu juga sudah terlalu banyak. Kayaknya perlu belajar dari negeri tetangga, Malaysia. Keterbatasan lahan membuat mereka terpaksa dan dipaksa untuk lebih maju di industri pengolahan karet menjadi barang-barang keperluan. Kebun tetap perlu, tapi ada batasannya. Ya semoga Indonesia belum terlalu ketinggalan.

Demikian. Sekedar catatan dan renungan antah berantah. Paling tidak untuk diri sendiri.